Kamis, 22 Maret 2012

BENTENG AMSTERDAM, GEREJA TUA IMANUEL & MESJID TUA WAPAUE (MENYUSURI LORONG WAKTU DI JAZIRAH LEIHITU)
Oleh : Muakrim M Noerz Soulisa


Di sini, di tanah bauh rempah
Di sini, di tanah bau bangkai

Disini bau darah
Di sini bau asin laut

Di sini aku minta air matamu
Aku minta ulur tanganmu

Menjagaku.....
Merawatku.....
Lindungiku....

Provinsi Maluku tidak hanya terkenal dengan Cengkeh dan pala atau juga wisata alamnya (laut dan pantai) yang terkenal indah dan pastinya mejadi ekstasi bagi para penikmatnya, namun Maluku juga memiliki tempat-tempat bersejarah yang menyimpan cerita tentang gigihnya perjuangan melawan penjajah. 

Mungkin bagi sebagian orang Benteng Amsterdam terdengar kurang familiar, terlebih untuk mereka yang bermukim di luar provinsi Maluku, 
Nah..........! untuk itulah postingan kali ini Saya akan memberikan sedikit gambaran mengenai tempat-tempat bersejarah yang bisa anda kunjungi, selain Benteng Amsterdam tentunya (wisata sejarah di Kecamatan Leihitu). 
Semoga Informasi mengenai objek wisata sejarah di Maluku (Kecamatan Leihitu khusunya) bisa menjadi peta petualangan anda guna menyusuri lorong waktu peradaban.


A. Benteng Amsterdam

            Benteng Amsterdam terletak di Desa Hila Kecamatan leihitu. Benteng ini di bangun oleh bangsa Portugis dan pada awalnya digunakan sebagai loji tempat penyimpanan rempah-rempah (Pala dan cengkih). Setelah diambil alih Belanda, gudang penyimpanan rempah-rempah itu dijadikan benteng VOC. Sekitar tahun 1640, Gubernur Gerard Demmer memugarnya bangunan ini dan berganti nama menjadi Benteng Amsterdam.

Untuk menuju Benteng Amsterdam di Desa Hila anda dapat menempuh perjalan darat dari pusat kota Ambon dengan menggunakan angkutan umum maupun charteran. Jarak dari pusat Kota yakni kurang lebih 35 Km ,sedangkan dari Bandara Pattimura kurang lebih 25 Km. Nah dalam perjalanan menuju Ibu Kota Kecamatan Leihitu ini (Hila) mata anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa, mulai dari Teluk baguala dengan airnya yang jernih dan tenang, selanjutnya anda akan disuguhi pemandangan pegunungan tatkala mulai memasuki kawasan Kecamatan Leihitu. Jalan berkelok mendaki dan menurun dengan pemandangan alam yang mempesona lebih terasa makin menyapa saat lambaian pohon cengkih dan pala menari gemulai di kiri kanan jalan. Satu lagi yang istimewa saat memasuki Kecamatan ini anda akan kembali disuguhi pemandangan Pantai yang indah dari ketinggian bukit karang di desa Hitu. Tidak sampai disitu saja, dari desa hitu menuju pusat Kecamatan (Desa Hila) hamparan pasir putih dengan kilauan cahaya yang bermain di riak air laut akan senantiasa mendampingi perjalanan anda. “Tidak ada salahnya jika anda hendak rehat sejenak guna menikmati hembusan angin laut”.

Adapun yang dapat anda saksikan pada Benteng Amsterdam yakni berupa perlengkapan perang milik belanda dan juga barang pecah belah yang telah berusia ratusan tahun. untuk tambahan di Desa Hila juga terdapat banyak Rumah Tua (Rumah Marga) yang telah dinyatakan oleh pemerintah sebagai bangunan cagar budaya.

Sekedar informasi yang tidak boleh anda lewatkan, dari Benteng Amsterdam anda dapat menyaksikan indahnya sunset serta megahnya pesisir pantai pulau seram (Nusa Ina)





B. Gereja Tua Imanuel
Masih di Desa Hila, tidak jauh dari Benteng Amsterdam (50 Meter) ke arah selatan terdapat bangunan sejarah yang tak kalah menarik yakni Gereja Tua Imanuel yang mana merupakan bangunan kedua yang di bangun oleh Belanda di Pulau Ambon. Gereja ini sendiri pernah beberapa kali di pugar namun bentuk aslinya tetap di pertahankan. Sayangnya konflik SARA yang berlangsung di wilayah Maluku juga berimbas pada bangunan bersejarah tesebut. Dan setelah angin perdamaian mulai tertiup di Bumi Para Raja Gereja Tua Imanuel pun kembali di bangun, dengan arsitektur bentuk yang sama.


C. Mesjid Tua Wapaue

Masih di Kecamatan yang sama dan hanya berjarak 150 meter dari Benteng dan Gereja Tua menuju arah selatan berdiri kokoh hingga sekarang sebuah bangunan bersejarah yang hingga detik ini bentuk aslinya masih dipertahankan.
"Mesjid Wapaue," Begitulah masyarakat menyebutnya. Nama Wapaue sendiri dalam bahasa daerah Kaitetu (Desa dimana Situs bersejarah ini berada) berarti dibawah pohon mangga barabu atau juga dikenal dengan sebutan mangga hutan (Istilah orang Ambon), yah' mungkin karena disekitaran Mesjid Tua ini banyak terdapat pohon tersebut.

Mesjid Tua  Wapaue di bangun pada tahun 1414 dan sebagaian kalangan menilai bahwa Mesjid ini merupakan Mesjid tertua di Indonesia. Namun entah kenapa hingga saat ini, Sejarah yang kita ketahaui dari buku-buku pelajaran bahwa mesjid yang tertua adalah Mesjid Demak.
berangkat dari kontroversi tersebut mari kita beralih pada peninggalan-peninggalan peradaban Islam yang masih tersimpan dengan rapi di Mesid ini. Diantaranya :

1.   Mushaf tulisan tangan yang menurut penelitian Abdul Bagir Zein, isi dalam masjid ini dihiasi dengan mushaf al-Qur‘an yang merupakan mushaf tertua di Indonesia, yaitu mushaf Imam Muhammad Arikulapessy (imam pertama masjid Wapaue) yang selesai ditulis tangan di atas kertas Eropa pada tahun 1550. 

   2.    Mushaf Nur Cahya (cucu Imam Muhammad Arikulapessy) yang selesai ditulis pada tahun 1590. Nur Cahya juga menulis karya-karya lain yang juga ditempatkan di dalam masjid, yaitu kitab Barzanji (yang berisi tentang riwayat dan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW).

3.   Kumpulan khutbah Ramadhan tahun I661, kalender Islam tahun 1407, dan manuskrip Islam lainnya yang telah berumur ratusan tahun.
4.   Batu dan timbangan kayu untuk menentukan jumlah zakat fitrah bagi penduduk asli pada saat itu.

Selain ketiga objek wisata sejarah yang disebutkan di atas, ada juga beberapa lokasi bersearah lainnya yang juga berada dalam Kecamatan Leihitu. Yakni,

1.   Benteng Kapahaha yang terletak di Desa Morela (11 Km dari Kota Kecamatan/Hila) Benteng yang terletak di daerah strategis ini (Tebing Terjal) merupakan pusat perlawanan para pejuang Tanah Hitu  beserta dengan para kapitan dan malesi dari Nusa Ina dalam melawan kolonial Belanda dalam perang Kapahaha
2.     Sekitar 20 Km ke arah barat dari Ibu Kota Kecamatan Leihitu, yakni di Desa Negeri Lima juga terdapat sebuah benteng milik VOC yang terletakdi tepian pantai, namun struktur bangunan dan peninggalan-peninggalan lainya sangat tidak terawat.

Nah...........!
Selamat berwisata menyusuri lorong waktu melalui bangunan-bangunan cagar budaya yang pastinya sangat eksotis dan bakalan membuat anda berdecak kagum.

Oh iya, satu lagi nih yang sangat penting, angkot terakhir untuk kembali ke kota - dari tempat wisata sejarah ini, tersdia sampai dengan Pukul 5 sore, tapi jika anda menggunakan mobil charteran, maka terserah deh mau pulangnya jam berapa. Pokoknya untuk transportasi saya jamin aman.

Ada lagi nih... (Kok ada lagi?) hehehehehe...
- Biaya masuk =  10.000/orang (per satu situs bersejarah)
- Ongkos mobil (jika menggunakan angkutan umum) = 20.000 (PP)
- Jika menggunakan mobil charteran (antar-jemput) = kurang lebih, Rp.300.000-Rp.400.000
 "Sekedar saran, jika anda berkelompok maka sebaiknya menggunakan mobil charteran"
- Nah bagi anda yang merasa kelebihan uang, anda dapat menggunakan mobil rental (harganya berfariasi,) tergantung lama nyewa dan jenis mobil.
- Untuk konsumsi anda tidak perlu khawatir, sebab banyak warung/rumah Makan di daerah pelabuhan (Hila)


Satu lagi (Kok ada lagi sih?) o___o', 
"Jika tak ingin petualangan sejarah  anda  hanya dianggap cerita belaka maka ...
maka....
maka...
maka...
maka...
     "APAAN SIH??????"

     "Jangan lupa bawa kamera dan alat dokumentasi lainnya gan.." hehehehehehe...

Semoga postingan ini bermanfaat bagi anda yang ingin mengunjungi Kota Manise"

Mari sama-sama kita jaga dan lestarikan alam, kekayaan sejarah dan khasanah budaya.
Salam basudara dari Tanah Raja-raja........



Foto : Berbagai sumber


4 komentar:

Jepara Minimalis mengatakan...

Mantap gan..... Ni Bisa di jadikan referensi sejarah.... LANJUTKAN untuk berkarya gan....

Jepara Minimalis mengatakan...

Mantap gan..... Ni Bisa di jadikan referensi sejarah.... LANJUTKAN untuk berkarya gan....

Muakrim m Noerz mengatakan...

Terimaksih untuk kunjungannya Gan...
Jangan bosen2 beerkunjung yah....!
:)

robert paksoal mengatakan...

Beta lahir di negeri kampung yg bersejara sy bangga bahwa di tempat kelahiran sy Hila sarani terdapat 3 tempat yg merupakan peninggalan penjajahan Portugis and Belanda
1.gereja Imanuel
2.benteng Amsterdam
3.mesjid Tua di kaitetu
Gereja Imanuel dulunya di bangun oleh penjajahan portugis ( gereja katolik ) lalu datang penjajahan Belanda memukul mundur penjajahan Portugis Dan gereja Imanuel di ambil alih oleh Belanda ( Protestan ).