Selasa, 22 Januari 2019

Di Jalanan Semua Pernah Berjudi (Mengenang Konflik Agama di Maluku)
jalanan kota kita yang pernah basah oleh luka; sebagian masih menganga
jalanan di mana orang dan suarasuara bertegur dengan mata saga
kita masih mengingatnya
masih di sini
di situ;
kepala

jalanan kota ini, pernah ada yang lempar dadu
sambil bersemedi di asap dan api tiada malu
di jalan kota ini Haleluya kau taruh di lidah parang
Allahuakbar aku balur di mata tombak
lalu opera kemulian dimulai

tahukah kau apa yang kita lakukan tempo itu?
ada yang melempar dadu bulat
menggelinding di jalanan depan gereja
berputar di laman masjid
tahukah kau apa yang kita lakukan di jalan ini; 

kala itu?

jalanan ini, sesekali kulihat satu dua wajah melintas
kukenali sebagai mereka berseragam loreng
kukenali mereka sebagai berseragam coklat
kita yang tanpa seragam
juga mereka;

penguasa

di jalanan kota ini;

dulu
kukenali alat negara dan penguasa sebagai bandar
kita;

bulat dadu menggelinding
Tuhan adalah taruhan

Pelabuhan Kecil, April 2015
PENGAKUAN SUBUH

Sumber gambar : www.grengsekers.com


Beberapa orang
bahkan kekasihku yang bajingan selalu bertanya "Siapa sahabat sejatimu?,"
"Tak ada"

Sedang di dadaku rindu tiada jemu
rindu benarbenar buta
dan pada subuh sekian ini
lirik ikhtiarnya kembali mengingatkan

Tik tok tik tok tik tok artinya, "Aku yang sejati."
Aih...
Sahabat sejatiku melekat di dinding
tiada tanding

Agustus 2016
KEPADA ANYELIR KECIL DI GAZA
Pada luka di tubuhmu yang kunamai cinta
maka sepatutnya bilah senyum di bibirmu dirayakan sebagai kemenangan
pantas dipestakan
setelah deritaderita panjang menjaga dan melindungi
setelah deritaderita tiada akhir dalam perjuangan
setelah batubatu terlontar menghalau peluru
setelah kalimatkalimat Tuhan kau tinggikan
setelah darah di tubuh kecilmu habis mencengkram bumi
semua itu pantas dipestakan
Pada luka di tubuh serta tangis ayah ibumu yang kunamai cinta
maka sepatutnya bilah senyum di bibirmu dirayakan sebagai kemenangan
pantas dipestakan
dan kepada tanah kering
kepada mesin perang
kepada jutaan peluru pemerkosa kemanusiaan
kepada baitul maqdis
Wallahi
dengan pena
dengan batu
pun peluru
telah kuikhlaskan anyelir kecilku
sebagai panah api pembebasan 
 
2018
AKU;KITA ADALAH SEMUA BAIK DAN BURUK
Sumber gambar : thegorbalsla.com
pernahkah merasa bahwa kau bukanlah satu-satunya orang? dua tiga empat bahkan lebih
menjadi mereka kita dia
menjadi segala
aku merasakannya
melayanglayang dihantam godam lalu jatuh menyentuh bumi
menjadi benang terpintal kusut
kemudian berputar dalam lingkaran

acap kali ingin sendiri
merapat dinding
menghilang dalam ketiadaan
tapi justru dengan begitu gerbang penciptaan di dalam kepala terbuka ulang
menjadi dua tiga empat bahkan lebih
aku menjadi penyair tempo mengetik puisi ini lalu bising angin menerbangkanku
menuju jalanan padu dengan nafas kehidupan
seketika aku menjadi pemulung atawa menjadi isi dalam karungnya
ditenteng di bawah temaram
berubah menjadi pelacur trotoar yang menyulut rokok di depan anak kecil
aku lah anak kecil itu
itu juga aku
pemuka agama
penikam tatapan hina pada si penjual selangkangan
nyala rokoknya kemudian menjadikanku kobaran dan terbang ke pantai
kutemui diriku sebagai nelayan memancing bulan tanpa beban
pundaku lalu tertekan
aku berganti menjadi buruh pelabuhan yang disucikan keringat
kala berpapasan dengan pejabat
serta merta akulah si pejabat itu
yang barusan mencuri isi perut pemulung pelacur anak kecil pemuka agama buruh

dan tentang si penyair
biarlah ia mencela dalam puisipuisinya
aku tiada peduli

pernahkah merasa bahwa kau bukanlah satu-satunya orang? atawa janganjangan sampai pernah ingin seperti Tuhan
pernahkah merasa bahwa kau bukanlah satusatunya dalam kepalamu?

2018