Sabtu, 14 Januari 2012

Duri Organisasi Non Kampus Dalam Dunia Akademisi
Oleh : Muakrim M Noer Soulisa



    Sore tadi untuk kesekian kalinya saya kembali membaca buku yang berisi tentang pemikiran Soe Hok Gie (Soe Hok Gie Sekali Lagi) dalam buku tersebut terdapat tulisannya yang berisi tentang penolakan kehadiran organisasi luar kampus untuk masuk dan berafiliasi dalam dunia intern civitas. Saya bisa menangkap pemikirannya seperti ini “Bahwa dunia akdemi haruslah bersih dari tunggangan-tunggangan partai, yakni dari organisasi yang menggunakan nama mahasiswa, sebab jika hal itu sampai diacuhkan maka otomatis generasi yang lahir akan menjadi genarasi tunggangan.”
Babak baru dalam sejarah perkembangan organisasi non kampus yang menggandeng nama besar mahasiswa diawali pada saat upaya untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno, dan kemudian sempat Mati suri saat Orde baru, dan kembali hidup pada saat Reformasi sampai sekarang.


Rasionalitas kehidupan ber-organisasi dalam dunia kampus semakin hari semakin diracuni dengan makin berpijaknya organisasi-organisasi non kampus yang kian erat mencekeram kerak dunia civitas, akibatnya orisionalitas gerakan mahasiswa untuk perubahan - kebanyakan hanya bergaung demi kepentingan para penunggang organisasi yang berinfiltrasi dalam pemerintah. Kita semua tahu bahwa beberapa organisasi luar yang memikul nama mahasiswa - sebagiannya ber-afiliasi dengan Partai-partai politik, entah itu partai yang memiliki asas agama, nasionalis maupun sosialis.
Kecenderungan infiltrasi organisasi non kampus kedalam dunia civitas diakibatkan oleh lemahnya pengawasan dari petinggi-petinggi kampus, kurangnya rangsangan dari petinggi lembaga untuk lebih menggiatkan gerakan yang berasal dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri, dan yang utama  yakni usaha untuk menguatkan akar organisasi luar kampus oleh anggota organisasi tersebut yang telah memiliki kekuatan di pemerintahan. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri yakni lantaran mahasiswa kurang mamahami gerakan infiltrasi politik ke dalam kampus.
Saya sendiri merasa heran dengan pergerakan-pergerakan organisasi yang sepertinya dibiarkan bergerak, tumbuh subur dan menebar segala ranjau dalam track line lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi) baik itu milik pemerintah maupun suwasta, hal ini diperparah dengan nilai kemurnian aksi mereka "Organisasi yang memikul nama mahasiswa."

Semasa masih menjadi seorang mahasiswa, saya yang notabene tidak berkecimpung dalam satu pun organisasi yang datang dari luar dunia kampus - sangat merasa heran dan tak habis pikir dengan salah satu  kampus tetangga yang melaksanakan pemilihan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa.) Bagaimana tidak? pada saat penentuan calon yang mendaftar, mereka di klasifikasikan oleh para Mahasiswa berdasakan organisasi yang ia geluti, misalnya (HMI, PMII, GMNI, dll) bahkan yang lebih parahnya para calon ketua tersebut dengan terang-terangan saling menyerang dan menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara dan taktik.  dari situlah timbul pertanyaan, Apakah mereka memiliki jiwa yang murni dalam pergerakan nanti? Di mana karakteristik ke-mahasiswa-an yang katanya tidak akan tersentuh kepentingan dunia luar? Kemana kontrol kampus terhadap organisasi yang datang dari dunia luar itu." Dan yang terakhir, Mengapa Mahasiswa kita begitu lemah dalam melihat lika-liku permainan politik yang menusuk dalam dunia civitas?”
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa para aktifis organisasi yang bergerak dan lahir dari luar kampus memiliki andil besar dalam menggerakan roda penyeimbang dalam pemerintahan, kita juga tidak bisa men-Just mereka "organisasi luar kampus" (Orang-perorang) sebagai para budak belian, lantaran tentunya tidak semua dari mereka memiliki nilai mines dalam perjuangan, dalam hal ini kemurnian aksi dan reaksi terhadap perkembangan isu, hukum, politik dan pemerintahan.

Namun ada nilai pelajaran yang harus kita ketahui dalam menilai dan melihat seberapa jauh dan pedulinya mereka pada isyu yang berkembang belakangan ini. Sebagai mana kita ketahui bahwa nama seorang mantan petinggi organisasi luar kampus *A U N* (inisial) yang masuk dalam susunan kabinet Indonesia Bersatu jilid II diisukan terjerat kasus Proyek hambalang yang bernilai lebih dari Rp 1,5 triliun, disini kita bisa melihat betapa nihilnya upaya aksi yang dilakukan oleh organisasi yang pernah dikomandoi oleh *AUN* tersebut. Nihil bukan? Hal ini sangat bertolak belakang dengan kasus-kasus lain yang selalu mereka "Organisasi luar kampus" pantau dan mereka protes dengan aksi yang berbagai rupa. Sekali lagi saya bertanya "Apakah selama ini murni perjuangan mereka, apakah perjuangan itu dilandaskan oleh hati nurani serta berpihak pada kebenaran?" Entahlah. 

Apa yang harus dilakukan? Tentunya semua komponen dunia akademisi haruslah memiliki tameng terhadap infiltrasi kepentingan busuk yang menunggangi nama besar mahasiswa, segala aspek itu harus dicegah dengan upaya petinggi-petinggi kampus untuk menghidupkan orisionalitas idielasme mahasiswa. Salah satu caranya yakni dengan menggiatkan kehidupan kampus yang berafiliasi dan memiliki konektifitas langsung terhadap dunia civitas dan kepentingan masyarakat.

Tidak ada komentar: