Anak – Anak ‘Sampan’ Kampung Gadong Menggapai Asa
by : Suhfi Majid
(Anggota Dewan Provinsi Maluku)
Kamis, 10 Mei 2012. Di pagi hari selepas shubuh di Masjid
Desa Tonujaya, pukul 06.00 WIT dengan speedboat kami (saya dan beberapa kawan
yang menemani perjalanan Reses) menyusuri pesisir pulau kelang. Fajar mulai
merekah di ufuk timur. Rencana persinggahan di pagi ini : Kampung Gadong
Kecamatan Waesala Kabupaten SBB, Provinsi Maluku. Desiran air yang tenang,
pegunungan pulau kelang yang menghijau, ceria diterpa cahaya pagi. Menampakan
pemandangan merona.
Memasuki kampung Gadong, di kejauhan terlihat sejumlah
perahu dan kole-kole (istilah orang
Maluku untuk sampan tanpa penyeimbang) mungil bergerak perlahan. Ketika speedboat mendekat, nampak seragam merah
putih menyembul dari perahu-perahu kecil mereka. Anak-anak belia itu mengayuh
sampan dan perahu kecil menuju dusun Tiang Bendera.
(Anak-anak Kampung Gadong) |
Seorang bocah perempuan mungil sibuk menimba air dari dalam
perahu. Gayung kecil ditangannya dipegang erat. Sang kakak yang usianya sepadan
tegar menggerakan perahu kecil. Percikan air laut membasahi seragam keduanya.
Beberapa buku tulis diamankan dalam tas plastik yang telah disiapkan dari
rumah. Jangan tanya mainan atau kelengkapan sekolah seperti anak-anak kota, itu
terlalu mewah untuk mereka.
Kayuhan perahu di pagi buta, bukanlah sebuah keriangan khas
anak-anak. Bukan pula pemandangan bermain menikmati dan membelah ombak. Kayuhan
itu adalah perjuangan. Perahu-perahu kecil itu membawa mereka ke dusun tiang
bendera, untuk menikmati hari-hari sekolah seperti anak-anak kebanyakan.
Anak-anak kampung Gadong, membangun
asa setiap pagi, menemani semburat mentari, membelah laut dengan wajah
sumringah, walau nampak kantuk kecil masih menyergap. Ketiadaan sekolah di
kampung mereka, membuat mereka harus berjuang untuk mendapat pendidikan yang
layak. Ke dusun Tiang bendera, itulah solusinya. Dusun tiang bendera yang
berjarak 2 kilo meter dari kampung ini tidak memungkinkan untuk dilewati dengan
berjalan kaki. Jalanan menaik, berbatu cadas terjal, membahayakan tubuh-tubuh
mungil ini. Terpeleset, nyawa taruhannya. Jurang menganga dan mengintai
mereka. Keselamatan mereka terancam. Dalam kondisi musim panas sudah sebegitu,
apalagi bebatuan licin yang membahayakan ketika musim hujan menderas. Tak ada
cara lain, kecuali mengayuh perahu. Lakon yang dijalani setiap pagi. Berulang,
ketika kokok ayam tanda memulai hari.
Ø Kampung Gadong, Negeri Tanpa Sekolah
Kampung Gadong, perkampungan pesisir dekat dusun Tiang
Bendera. Rumah-rumah beratap rumbia, berdinding papan, berjejer seadanya.
Memulai pagi dengan memegang jala adalah beberapa lakon keseharian.
Tidak ada sekolah setingkat SD apalagi SMP. Pernah dibangun
SD Kelas Jauh Tiang bendera. Tujuannya agar siswa kelas satu dan kelas dua
dapat bersekolah di situ.
Tubuh mereka terlalu mungil untuk menantang jaman, menaiki
cadas terjal atau menerjang ombak bersama perahu-perahu kecil.
Tahun 2007, seorang pemuda anak negeri
kampung gadong, berbaik hati mengabdi di SD kelas jauh tersebut. Sambil setiap
pagi mereka menanak pengetahuan, tubuh-tubuh mungil kelas satu dan kelas dua
belajar menguatkan tekad, menambal tenaga. Perjuangan panjang untuk menuju
dusun Tiang Bendera tentu harus dijalani ketika mereka kelas 3. Butuh tangan
dan kaki agak kekar.
Dua tahun berjalan, dari 2007 hingga
2009. Kelas jauh itupun terhenti. Sang pemuda lolos memilih menjadi PNS di
Tehoru Kabupaten Maluku Tengah. Kisah sekolah terbengkelai menjadi cerita baru.
Saat saya datangi, kelas beratap daun sagu itu tak lagi utuh. Sebagian atapnya
diterbangkan angin. Dinding kelas dari papan, lapuk dimakan hari. Jauh dari
perawatan. Bangunan sederhana hasil swadaya hampir roboh. Tak terurus. Lebih
miris dari kisah laskar pelangi.